Bima Setya Dirgantara, anak lelaki berusia 14 tahun yang duduk di bangku SMP. Anaknya itu tipe yang sangat santai dan malas jika disuruh membaca buku tebal. Dia juga suka sekali berbicara yang dibuat terlalu singkat. Bisa dibilang, Bima adalah "Bocil Zaman Now” yang tidak suka ambil sulit. Aris, teman Sekelas Bima yang jaga Bahasa Indonesia itu sering dipanggil sebagai "Anak Puitis" tapi suka dijahili oleh Bima.
Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, yang berarti sudah waktunya istirahat. Kringg! Siswa-siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Begitupun dengan Bima yang ingin keluar kelas, tak lupa Aris juga diajak pergi keluar.
“Woi! Udah Istirahat! Ayo keluar!” ajak Bima.
Keadaan kelas sudah seperti keramaian pasar di siang hari. Ada yang berteriak histeris, ada yang naik ke atas meja, bahkan sampai ada yang menangis karena uang sakunya tertinggal di rumah. Sementara itu, Aris hanya bisa menarik napas sambil ngomel sendiri.
"Huft… Lagi-lagi aku yang paling terakhir keluar kelas," ujar Aris sambil keluar kelas.
Ketika dia berjalan, tiba-tiba ia berpapasan dengan Pak Joko, guru Bahasa Indonesia di sekolahnya. Pak Joko bertanya kenapa Aris baru keluar kelas, sementara teman-temannya sudah keluar kelas sedari tadi. Aris hanya bisa mengiyakan.
“Kalau begitu, saya minta tolong sampaikan ke Bima ya kalau dia terpilih lomba cerpen. Tapi sementara latihan sama kamu karena saya beberapa hari ke depan sibuk,” ucap Pak Joko.
“Baik, Pak. Saya akan sampaikan,” jawab Aris.
Saat cuaca sedang panas-panasnya tiba-tiba bel sekolah berbunyi, menandakan waktu pulang Sekolah. Para siswa yang tadinya lesu berubah menjadi ceria saat mendengar Bel
"Bima! Tunggu! Aku mau bicara i sebentar!” ucap Aris yang melihat Bima di depan pintu.
"Ada apa, Ris? Mau bacain puisi lagi?" Bima menjawab sambil tersenyum nakal.
"Enggak. Jadi begini, kamu dikasih kepercayaan sama Pak Joko buat ikut lomba Cerpen mewakili sekolah kita, kata beliau sementara waktu latihannya sama aku dulu. Sehabis pulang sekolah ke rumahku ya." ucap Aris.
"lya-iya, sehabis pulang sekolah aku ke rumahmu" jawab Bima, wajahnya agak keliatan kesal.
Bima sudah makan, ganti baju, tapi kok ada yang beda ya? ternyata kali ini ia membawa tas sekolahnya.
"Lho, nak, mau kemana bawa-bawa tas?" tanya ibu.
"Oh iya, aku mau ke rumah Aris buat latihan lomba cerpen. Aku berangkat dulu ya, Bu,” jawab Aris sambıl mencium tangan ibu tercintanya.
“Ya sudah, hati-hati," ucap ibu yang terheran mengapa putranya itu yang malas membaca buku tiba-tiba mengikuti lomba cerpen.
Masa sih, aku di suruh ikut lomba cerpen? ucap Bima dalam hati. wajahnya terlihat tidak senang.
Pedal sepeda dikayuhnya lebih cepat. Akhirnya ia sampai di rumah Aris. Bima memarkirkan sepedanya di bawah pohon depan rumah Anis, lalu ia turun dari sepedanya.
"Assalamu'alaikum, Aris!" ucap Bima sambil terengah-engah karena kelelahan.
Tak lama ada seseorang yang mengintip dari jendela rumah, yang tidak lain adalah Aris, lalu ia mengajak Bima mašuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Jadi kita mulai dari mana dulu?" tanya Bima.
"Sebelum membuat membuat cerita kita harus menentukan tema, membuat kerangka cerita, membuat alur yang menarik,” jawab Aris.
Bima terdiam sebentar, ia kebingungan dengan membuat cerita, ia kurang mahir dalam hal tersebut. Karena sedikit tertekan tangannya gemetar karena tidak terbiasa menulis banyak. Seringkali berhenti untuk berpikir atau sekedar juga sering menghela napas.
Setelah 30 menit akhirnya Bima berhasil membuat cerita, walaupun hanya 1 paragraf Aris mengoreksi cerita buatan Bima. Matanya terlihat sangat tajam mengamati lembaran kertas yäng dipegangnya. Aris yang sudah selesai mengoreksi memberitahu letak-letak kesalahan Bima dalam menulis. Bima yang berkecil hati berkata bahwa dia tidak punya bakat apapun. Aris pun kaget dan langsung memberi nasihat. "Hei! Kamu tidak boleh seperti itu! Kamu bisa kok, perbanyak latihan saja. Besok sehabis pulang sekolah datang lagi ke rumahku.”
Bima pulang. Sesampainya di rumah, ia dimintai tolong oleh ibu untuk membantu membersihkan gudang. Setelah beberapa menit Bima menuju gudang, walaupun masih merasa lelah. Di gudang sudah ada ibu, mereka berdua mulai membersihkan lemari, sudut- sudut ruangan, menyapu, dan mengepel.
“Nak, ibu bersih-bersih halaman dulu ya. Kamu bisa kan membersihkan Sendiri? ini hanya merapikan buku- buku saja,” ucap ibu.
Bima mengiyakan. Bima menata buku dengan lincah, buku-buku tertata rapi di rak. Bruuk! Ternyata ada satu buku tua jatuh dari rak tertinggi, buku itu sangat berdebu dan sampulnya yang berwarna putih terlihat kuning kecoklatan. Bima membuka lembaran, membolak balik halaman yang terasa kasar, berdebu, di dalamnya banyak pantun, cerpen, dan karya sastra. Saat membuka halaman berakhir tangannya tersedot ke dalam buku itu. Ia berusaha mengeluarkan tangannya dengan sekuat tenaga, namun seluruh tubuhnya masuk ke dalam buku.
Aku dimana? ucap Bima dalam hati. Tubuhnya berasa sakit hampir tidak bisa berdiri, Tiba -tiba ada sosok anak laki-laki, kulitnya putih, tubuhnya tinggi besar datang memandang Bima.
"Hei kamu! Bangun! Bangun! Jangan pingsan!” ucap anak laki-laki tersebut sambil menggoyang-goyang pelan bubuh Bima.
Bima berhasil bangun, melihat sekelilingnya yang terasa beda, rumah-rumah kayu, jalan-jalan masih kerikil, penerangan jalan masih sangat minim.
“Namamu Siapa?" tinya Bima pada anak laki-laki tersebut.
"Abdurrahman panggil saja Rahman jawabnya.
Karena hari mulai gelap, Rahman mengajak Bima pulang ke rumahnya. Tibalah mereka di depan rumah joglo sederhana, mereka masuk.
"Ini rumahku sederhana, tapi aku nyaman dı sini, silakan duduk. Oh ya, namamu siapa?" tanya Rahman.
"Aku Bima,” jawabnya sambil melihat sekeliling isi ruang tamu.
Di dinding berjejer sertifikat penghargaan milik Rahman,di atas lemari tertata dengan rapi piala- piala. Di dalam sertifikat tertulis juara 1 lomba puisi rakyat dan juara 2 menulis cerpen dan masih banyak lagi.penghargaan lainnya.
“Kamu hebat ya! Masih muda sudah mencetak banyak prestasi,” ucap Bima terkagum-kagum.
"Ya. Alhamdulillah,” jawab Abdurrahman.
"Kamu tidak lelah menjadi penulis, banyak sekali pekerjaannya?" tambah Bima lagi.
“Untuk apa aku lelah? Impianku adalah membawa bahasa di muka Internasiona! aku ingin bangsa ini maju, dan ingin banyak orang mancanegara mempelajari bahasa kita," urai Rahman sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat rasa semangat Bima tumbuh, ia menjadi lebih semangat berlatih cerpen. Yang membuat Bima tambah bersemangat adalah ternyata Rahman berhasil menerbitkan buku ciptaannya sendıri, berbagai jenis bulu cerita digemari anak kecil.
"Abdurrahman, anak kelas & SMP Bina Bangsa berhasil meraih berbagai penghargaan seni” suara itu diucapkan penyiar dari sebuah siaran radio.
Abdurrahman sangat senang, begitu pula Bima yang semakin Semangat. Saat sedang berbincang santai tiba-tiba Boom!!
Bima kembali ke gudangnya. la kaget, namun setelah melihat dirinya di dalam gudan, ia sedikit merasa tenang. Bima duduk bersandar di lemari, ia sedang memahami apa yang terjadi sebenarnya. Tak lama, Bima mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah gudang.
“Nak, sudah selesai belum?" ucap ibu sambil membuka pintu.
“I-ya, Bu. Sudah kok,” jawab Bima sambil bersiap-siap berdiri.
Ibu mengiyakan, lalu menyuruh Bima kembali ke kamarnya, Sepanjang jalan ke kamar ia masih berusaha keras memikirkan kejadian itu. Buku yang membuatnya masuk masa lalu juga tidak ditemukan di dalam gudang.
Saat melamun, Bima menemukan suatu ide. Ia ingin membuat cerpen berdasarkan peristiwa yang dialaminya. Kini tangannya sudah tidak gemetar, ia juga tidak kehabisan ide. Akhirnya, cerpennya selesai setelah berapa jam membuat, cerpennya berjudul “Buku”. Itu adalah cerpen pertamanya yang benar benar berhasil, hatinya sangat senang.
Keesokan harinya la memberikan cerita tersebut kepada Aris.
“Ini cintamu Bim?”sudah bagus kok! Perkembangannya sungguh luar biasa," urai Aris senang.
Tibalah hari perlombaan. Bima sudah duduk di bangku peserta lomba, ia tegang. Saat semua peserta sudah masuk ke ruangan, barulah juri membacakan temanya. Bima mengikuti perlombaan tersebut dengan antusias. Selesai lomba peserta harus membaca ceritanya sendiri. Tiba giliran Bima,meskipun awalnya sempat canggung, tapi ia lancar sesaat setelah mulai kalimat pertama.
Momen yang paling ditunggu adalah pengunguman lomba. Bima memperoleh juara 2. Hatinya sungguh senang tiada tara. Walaupun hasilnya belum terlalu memuaskan, ia senang bisa mendapat juara.
Penulis : Aisyah Inara Pambudi
Editor : Mufti Wibowo

Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!