Berita
Oct 01, 2026

Ketika Ilmu Menjadi Cahaya

Ilmu pengetahuan adalah roda penggerak utama kemajuan peradaban manusia. Mulai dari hal-hal paling sederhana hingga teknologi yang kita nikmati hari ini, semuanya berakar dari pencarian ilmu dan eksperimen ilmiah. Tanpa adanya ilmu, inovasi tidak akan pernah lahir, dan kita hanya akan terjebak dalam rutinitas kehidupan yang monoton.

Di tengah derasnya arus informasi seperti saat ini, ilmu menjadi kompas yang membantu kita memilah mana yang benar dan mana yang salah. Dengan pemahaman yang baik, kita terhindar dari keputusan yang keliru, baik dalam menentukan arah karier, memilih produk, maupun merespons kebijakan. Lebih dari sekadar alat untuk bertahan hidup, ilmu agama adalah warisan berharga dari para Nabi yang mengangkat derajat manusia di hadapan Sang Pencipta.

Rasulullah SAW bersabda:

 الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ 

"Para ulama adalah pewaris para Nabi." (HR. Abu Dawud 3641)

 

Allah SWT juga menegaskan kemuliaan penuntut ilmu dalam firman-Nya:

 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ 

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Namun, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan: ilmu tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya adab.

 

Apa Itu Adab dan Mengapa Begitu Penting?

Secara sederhana, adab adalah proses melatih jiwa agar terbiasa dengan perilaku terpuji dan akhlak yang baik. 

Para ulama bahasa Arab menjelaskan ungkapan:

 وأَدَبْتُه أَدْبًا: عَلَّمْتُه رياضة النفس ومحاسن الأخلاق 

"Aku telah mendidiknya, melatih jiwanya, dan mengajarkannya akhlak yang baik."

 

Adab tidak hanya berbicara mengenai moral dasar, tetapi juga mencakup kesantunan, keindahan bertutur kata, serta keluwesan dalam bersikap. Seseorang yang memiliki adab disebut sebagai adib.

Al-Azhari menjelaskan:

 الأدب الذي يتأدب به الأديب من الناس، سُمِّي أدبًا لأنه يأدب الناس الذين يتعلمونه إلى المحامد وينهاهم عن المقابح. 

"Adab adalah sesuatu yang dengannya seseorang menjadi beradab (adib). Dinamakan adab karena ia mengajak orang yang mempelajarinya menuju hal-hal terpuji dan mencegah mereka dari perbuatan keji." (Tahdzib Al-Lughoh: 14/147)

Senada dengan hal tersebut, Abu Zaid al-Anshari menyebutkan dalam Al-Misbah Al-Munir bahwa adab mencakup setiap bentuk pelatihan jiwa yang membawa seseorang pada keutamaan. Tanpa adab, ilmu yang kita pelajari bisa kehilangan keberkahannya, bahkan berisiko menjadi bumerang bagi diri sendiri.

 

Delapan Adab Penting dalam Menuntut Ilmu

Agar ilmu yang kita cari berbuah keberkahan dan membawa cahaya dalam hidup, berikut adalah adab-adab utama yang wajib kita jaga:

 

1. Meniatkan Langkah Hanya karena Allah Ta'ala

Segala sesuatu bermula dari niat. Jangan sampai tujuan kita menuntut ilmu berbelok hanya demi mendapat pujian, dipandang pintar, atau dipanggil "ustadz" dan "guru". Luruskan niat untuk mengamalkan dan menyebarkannya.

Rasulullah SAW mengingatkan:

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ 

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." (HR. Bukhari 1)

 

Kita juga diajarkan untuk senantiasa berlindung dari ilmu yang sia-sia melalui doa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ 

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat." (HR. Muslim 2722)

 

2. Memuliakan Guru dan Memuliakan Ilmu

Ilmu mengalir melalui perantara para guru. Oleh karena itu, menghormati mereka adalah kunci utamanya.

Rasulullah SAW bersabda:

 لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَرْفَعْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ 

"Bukan dari golonganku orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami." (HR. Ahmad 27332)

 

Bentuk penghormatan kepada guru bisa diwujudkan dengan duduk yang sopan, tidak memotong pembicaraan, tidak berbantah-bantahan, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Lihatlah bagaimana indahnya adab Imam Asy-Syafi'i terhadap gurunya, Imam Malik: beliau membalik lembaran kitab dengan sangat perlahan dan lembut agar tidak mengganggu sang guru.

 

3. Sabar dan Konsisten (Istiqamah)

Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, hingga harta. Jangan sampai semangat kita hanya bertahan beberapa hari, lalu padam di bulan-bulan berikutnya.

Allah SWT mengajarkan kita untuk terus memohon tambahan ilmu:

 وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا 

"Dan katakanlah: Ya Rabb, tambahkanlah aku ilmu." (QS. Thaahaa: 114)

 

4. Mengamalkan Ilmu

Tujuan akhir dari ilmu adalah amalan. Ada ungkapan bijak yang sangat populer:

 العلم بلا عمل كالشجر بلاثمر 

"Ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah."

Tanpa pengamalan, teori yang kita pelajari hanya akan menjadi wacana tanpa manfaat nyata.

 

5. Menjaga Adab di Majelis Ilmu

Saat berada di ruang belajar atau majelis ilmu, tunjukkan sikap terbaik: duduk dengan tenang, menyimak penjelasan, mencatat poin penting, tidak menyibukkan diri dengan ponsel, dan hadir tepat waktu.

Pepatah Arab menyebutkan:

العلم كالصيد قيد صيودك بالحبال المتينة

"Ilmu itu ibarat hewan buruan, maka ikatlah ia dengan tali yang kuat."

 

Catatan yang kita tulis adalah ikatan bagi ilmu agar tidak hilang begitu saja. Hal ini juga sejalan dengan arahan untuk menyimak dengan tenang:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A'raf: 204)

 

6. Saling Menghormati Antarsesama Penuntut Ilmu

Teman seperjuangan bukanlah pesaing untuk dijatuhkan. Hindari rasa iri, dengki, atau saling merendahkan. Ingatlah bahwa tujuan bersama adalah meraih ridha Allah.

Rasulullah SAW mengingatkan dengan sangat tegas:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوْا، وَلَا تَبَاغَضُوْا، وَلَا تَدَابَرُوْا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ الله إخواناً ، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ، وَلا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا - وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ - بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ) Dari 

Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy (merekayasa penawaran), saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tanpa pertolongan), mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu ada di sini"—seraya menunjuk ke dada beliau tiga kali—"Cukuplah seseorang dikatakan berbuat kejahatan jika ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram darahnya, harganya (hartanya), dan kehormatannya." (HR. Muslim)

 

7. Memperbanyak Doa dan Memohon Kemudahan

Kemampuan memahami ilmu adalah murni karunia dari Allah. Oleh karena itu, jangan pernah putus berdoa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا

"Ya Allah, berilah manfaat atas ilmu yang Engkau ajarkan padaku, ajarkanlah kepadaku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmunya untukku."

 

8. Menyebarkan Ilmu Kembali

Ilmu yang kita dapatkan tidak boleh berhenti di diri sendiri. Bagikan dan ajarkan kembali kepada orang lain.

خَيْرُكُم مَّن تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari 5027)

Mengajarkan ilmu juga menjadi investasi pahala yang terus mengalir meskipun kita telah meninggalkan dunia ini (HR. Muslim 1631).

Indahnya Buah Beradab dalam Menuntut Ilmu

Ketika seseorang memprioritaskan adab dalam menuntut ilmu, ia akan memetik berbagai keutamaan:

  1. Ilmunya menjadi penuh berkah dan lebih mudah dipahami.

  2. Dicintai oleh guru serta rekan-rekan seperjuangan.

  3. Mudah untuk mengamalkannya sehingga menjadi tabungan pahala jariyah.

  4. Diangkat derajatnya di dunia maupun di akhirat.

Masa muda adalah kesempatan emas yang tidak akan terulang. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa arti sebelum rasa menyesal menghampiri. Mari kita hiasi perjalanan menuntut ilmu ini dengan akhlak dan adab mulia, sebagaimana janji Rasulullah SAW:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya."

 

Penulis: Ustadz Badelul Rifa'i

Editor: Mufti Wibowo

 

Komentar (2)

Sifd

29 Sep 2026, 16:55 WIB

MasyaAllah

Ayah Ben Fahri

29 Sep 2026, 12:16 WIB

Artikel “Ketika Ilmu Menjadi Cahaya” ini menyajikan pesan yang mendalam dan relevan bagi kehidupan saat ini. Penulis berhasil menunjukkan bahwa ilmu membantu manusia memahami kebenaran, mengambil keputusan, dan memberi manfaat bagi sesama. Penekanan pada adab sebagai pendamping ilmu menjadi kekuatan utama tulisan ini, karena mengingatkan pembaca bahwa kecerdasan perlu disertai kerendahan hati dan akhlak yang baik. Uraian tentang niat serta adab dalam menuntut ilmu juga disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan didukung rujukan keagamaan. Artikel ini menginspirasi kita untuk terus belajar, mengamalkan pengetahuan dengan bijaksana secara nyata dan berkelanjutan, serta menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi diri dan lingkungan sekitar.

Tinggalkan Komentar

eduact